Kalahkan kanker dengan imunoterapi
"Kalahkan kanker dengan imunoterapi"
Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakteraturan perjalanan hormon yang mengakibatkan tumbuhnya daging pada jaringan tubuh yang normal atau sering dikenal sebagai tumor ganas.Selain itu gejala ini juga dikenal sebagai neoplasma ganas dan seringkali ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk:
Penyakit ini sering dikenal oleh masyarakat sebagai tumor, padahal tidak semuanya adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal, dan terbagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas.
Penyakit ini dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh, dan pada semua gologan umur, namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala. Bila sudah ada keluhan atau gejala, biasanya penyakitnya sudah lanjut.
Sering kita dengar tentang penyakit kanker di era modern ini dan tidak sedikit orang ketika di vonis di tubuh nya tumbuh sel kanker pasti fikiran yang muncul di kepala mereka pasti mati dan merasa sudah hancur semua hidup nya,Peningkatan jumlah kasus kanker baik secara global maupun di Indonesia menjadi latar belakang kemunculan inovasi terbaru di industri kesehatan, khususnya pada pengobatan kanker, yaitu imunoterapi.Pengobatan tersebut memungkinkan daya tahan tubuh pasien kanker menjadi lebih kuat dalam mengenali dan melawan sel kanker di dalam tubuh guna mencapai tujuan pengobatan untuk meningkatkan median survival rate (harapan hidup) yang lebih baik bagi pasien kanker stadium lanjut.. Sebagai referensi penderita kanker bisa buka link www.kalahkankanker.com dan di sini saya akan sedikit mengupas mengenai pengobatan imunoterapi .
Pengobatan kanker mengunakan imunoterapi
Imunoterapi adalah jenis pengobatan yang mendorong kerja sistem imun atau kekebalan tubuh agar lebih efektif dalam melawan penyakit, termasuk kanker. Pengobatan ini dapat diberikan lewat infus, obat minum, krim oles, atau disuntikkan langsung ke kandung kemih penderita kanker.Imunoterapi dikatakan dapat memperlambat, menghentikan perkembangan sel kanker, serta mencegahnya menyebar ke organ lain.
Pengobatan dengan imunoterapi dilakukan agar sistem imun lebih cerdas mengenali sel kanker serta memperkuat respons sistem imun terhadap sel kanker, sehingga perkembangan sel-sel yang ganas dapat diperlambat, bahkan dihentikan.
Imunoterapi dipilih sebagai penanganan kanker dengan berbagai alasan berikut ini:
Dalam penanganan kanker, ada beberapa jenis imunoterapi yang dapat digunakan, yaitu:
1. Antibodi monoklonal
Antibodi monoklonal adalah protein imun buatan. Protein ini didesain khusus untuk dapat menandai sel-sel kanker secara spesifik, sehingga dapat membunuh sel ganas tanpa ikut menghancurkan sel yang sehat.
2. Checkpoint inhibitor
Checkpoint inhibitor adalah obat yang dapat membantu sistem imun dalam merespon sel kanker. Cara kerjanya adalah dengan mengganggu kemampuan sel kanker untuk menghindari serangan sistem kekebalan tubuh.
3. Vaksin
Vaksin adalah zat yang disuntikkan ke dalam tubuh untuk mendorong respons imun terhadap suatu penyakit. Pada penanganan kanker, vaksin dapat digunakan baik untuk mencegah maupun untuk mengobati kanker.
4. Imunoterapi non-spesifik
Imunoterapi non-spesifik adalah jenis imunoterapi yang dapat meningkatkan kinerja sistem imun secara keseluruhan. Beberapa jenis zat penguat sistem imun yang umum digunakan adalah sitokin dan BCG (Bacillus Calmette-Guerin).
Regimen imunomodulator sering memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada obat yang ada, termasuk lebih sedikit potensi untuk menciptakan resistensi ketika mengobati penyakit mikroba. Imunoterapi berbasis sel efektif untuk beberapa kanker. Sel-sel efektor imun seperti limfosit, makrofag, sel dendritik, sel pembunuh alami (sel NK), limfosit T pembunuh (CTL) bekerja bersama untuk mempertahankan tubuh terhadap kanker dengan menargetkan antigen abnormal yang diekspresikan pada permukaan sel tumor.Terapi seperti granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF), interferon, imiquimod, dan fraksi membran seluler dari bakteri telah disetujui untuk penggunaan medis. Sedangkan lainnya sedang dalam uji klinis dan praklinis termasuk IL-2, IL-7, IL-12, berbagai kemokin, sitosin fosfat-guanosin sintetis (CpG) oligodeoksinukleotida dan glukan.
Imunoterapi kanker berupaya merangsang sistem imun untuk menghancurkan tumor. Berbagai strategi sedang digunakan atau sedang menjalani penelitian dan pengujian. Studi terkontrol secara acak pada kanker yang berbeda menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kelangsungan hidup dan periode bebas penyakit telah dilaporkan dan kemanjurannya meningkat sebesar 20-30% ketika imunoterapi berbasis sel dikombinasikan dengan metode pengobatan konvensional. Ekstraksi limfosit G-CSF dari darah dan dibiakkan in vitro melawan antigen tumor sebelum menginjeksi kembali sel dengan sitokin stimulasi yang tepat, menunjukkan sel dapat menghancurkan sel-sel tumor yang mengekspresikan antigen. Imunoterapi topikal menggunakan krim peningkat kekebalan (imiquimod) yang menghasilkan interferon, menyebabkan sel T pembunuh penerima menghancurkan kutil,keratosis actinic, kanker sel basal, neoplasia intraepitel vagina, kanker sel skuamosa, limfoma kulit, dan melanoma ganas yang dangkal.
Imunoterapi injeksi ("intralesional" atau "intratumoral") menggunakan cacar, candida, vaksin HPV atau injeksi antigen trichophytin untuk mengobati kutil (tumor yang diinduksi HPV).
Transfer sel adoptif telah diuji pada paru-paru dan kanker lainnya, dengan keberhasilan terbesar dicapai pada melanoma.
Priming pompa berbasis sel dendritik Sunting
Sel dendritik dapat distimulasi untuk mengaktifkan respon sitotoksik terhadap antigen. Sel dendritik diambil dari orang yang membutuhkan imunoterapi. Sel-sel ini kemudian dimuati dengan antigen atau tumor lisat atau ditransfeksi dengan vektor virus, menyebabkan mereka menyajikan antigen. Setelah ditransfusikan kemabli ke orang tersebut, sel-sel yang teraktivasi ini menyajikan antigen ke limfosit efektor (sel T pembantu CD4+, sel T pembunuh CD8+, dan sel B). Hal ini memulai respons sitotoksik terhadap sel-sel tumor yang mengekspresikan antigen (yang dengannya respons adaptif kini telah diprioritaskan). Vaksin kanker Sipuleucel-T merupakan salah satu contoh dari pendekatan ini.
Transfer adoptif sel T Sunting
Transfer sel yang diadopsi secara in vitro menumbuhkan sel T yang diekstraksi secara autologus untuk transfusi selanjutnya.
Atau, sel T yang direkayasa secara genetika dibuat dengan memanen sel T dan kemudian menginfeksi sel T dengan retrovirus yang berisi salinan gen reseptor sel T (TCR) yang khusus dikenali untuk mengenali antigen tumor. Virus mengintegrasikan reseptor ke dalam genom sel T. Sel-sel dibiakkan secara tidak spesifik dan/atau distimulasi. Sel-sel tersebut kemudian diinfuskan kembali dan menghasilkan respon imun terhadap sel-sel tumor. Teknik ini telah diuji pada melanoma metastasis kambuhan dan kanker kulit.
Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakteraturan perjalanan hormon yang mengakibatkan tumbuhnya daging pada jaringan tubuh yang normal atau sering dikenal sebagai tumor ganas.Selain itu gejala ini juga dikenal sebagai neoplasma ganas dan seringkali ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk:
- tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal)
- menyerang jaringan biologis di dekatnya.
- bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis.
Penyakit ini sering dikenal oleh masyarakat sebagai tumor, padahal tidak semuanya adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal, dan terbagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas.
Penyakit ini dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh, dan pada semua gologan umur, namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala. Bila sudah ada keluhan atau gejala, biasanya penyakitnya sudah lanjut.
Sering kita dengar tentang penyakit kanker di era modern ini dan tidak sedikit orang ketika di vonis di tubuh nya tumbuh sel kanker pasti fikiran yang muncul di kepala mereka pasti mati dan merasa sudah hancur semua hidup nya,Peningkatan jumlah kasus kanker baik secara global maupun di Indonesia menjadi latar belakang kemunculan inovasi terbaru di industri kesehatan, khususnya pada pengobatan kanker, yaitu imunoterapi.Pengobatan tersebut memungkinkan daya tahan tubuh pasien kanker menjadi lebih kuat dalam mengenali dan melawan sel kanker di dalam tubuh guna mencapai tujuan pengobatan untuk meningkatkan median survival rate (harapan hidup) yang lebih baik bagi pasien kanker stadium lanjut.. Sebagai referensi penderita kanker bisa buka link www.kalahkankanker.com dan di sini saya akan sedikit mengupas mengenai pengobatan imunoterapi .
Pengobatan kanker mengunakan imunoterapi
Imunoterapi adalah jenis pengobatan yang mendorong kerja sistem imun atau kekebalan tubuh agar lebih efektif dalam melawan penyakit, termasuk kanker. Pengobatan ini dapat diberikan lewat infus, obat minum, krim oles, atau disuntikkan langsung ke kandung kemih penderita kanker.Imunoterapi dikatakan dapat memperlambat, menghentikan perkembangan sel kanker, serta mencegahnya menyebar ke organ lain.
Pengobatan dengan imunoterapi dilakukan agar sistem imun lebih cerdas mengenali sel kanker serta memperkuat respons sistem imun terhadap sel kanker, sehingga perkembangan sel-sel yang ganas dapat diperlambat, bahkan dihentikan.
Imunoterapi dipilih sebagai penanganan kanker dengan berbagai alasan berikut ini:
- Imunoterapi dinilai lebih efektif dibandingkan pengobatan kanker lainnya, seperti radiasi atau kemoterapi, terutama pada kanker kulit.
- Imunoterapi dapat membantu efektivitas pengobatan lain yang sedang dilakukan. Contohnya, kinerja kemoterapi bisa lebih baik saat pasien juga menjalani imunoterapi.
- Imunoterapi memiliki efek samping lebih kecil dibandingkan pengobatan lain, karena imunoterapi membuat sistem imun hanya menyerang sel kanker secara spesifik.
- Iyo Imunoterapi dapat meminimalkan kanker muncul kembali, karena pengobatan ini memicu imunomemori, yaitu kemampuan sistem imun untuk mengingat sel kanker, sehingga akan segera diserang bila muncul kembali.
Dalam penanganan kanker, ada beberapa jenis imunoterapi yang dapat digunakan, yaitu:
1. Antibodi monoklonal
Antibodi monoklonal adalah protein imun buatan. Protein ini didesain khusus untuk dapat menandai sel-sel kanker secara spesifik, sehingga dapat membunuh sel ganas tanpa ikut menghancurkan sel yang sehat.
2. Checkpoint inhibitor
Checkpoint inhibitor adalah obat yang dapat membantu sistem imun dalam merespon sel kanker. Cara kerjanya adalah dengan mengganggu kemampuan sel kanker untuk menghindari serangan sistem kekebalan tubuh.
3. Vaksin
Vaksin adalah zat yang disuntikkan ke dalam tubuh untuk mendorong respons imun terhadap suatu penyakit. Pada penanganan kanker, vaksin dapat digunakan baik untuk mencegah maupun untuk mengobati kanker.
4. Imunoterapi non-spesifik
Imunoterapi non-spesifik adalah jenis imunoterapi yang dapat meningkatkan kinerja sistem imun secara keseluruhan. Beberapa jenis zat penguat sistem imun yang umum digunakan adalah sitokin dan BCG (Bacillus Calmette-Guerin).
Regimen imunomodulator sering memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada obat yang ada, termasuk lebih sedikit potensi untuk menciptakan resistensi ketika mengobati penyakit mikroba. Imunoterapi berbasis sel efektif untuk beberapa kanker. Sel-sel efektor imun seperti limfosit, makrofag, sel dendritik, sel pembunuh alami (sel NK), limfosit T pembunuh (CTL) bekerja bersama untuk mempertahankan tubuh terhadap kanker dengan menargetkan antigen abnormal yang diekspresikan pada permukaan sel tumor.Terapi seperti granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF), interferon, imiquimod, dan fraksi membran seluler dari bakteri telah disetujui untuk penggunaan medis. Sedangkan lainnya sedang dalam uji klinis dan praklinis termasuk IL-2, IL-7, IL-12, berbagai kemokin, sitosin fosfat-guanosin sintetis (CpG) oligodeoksinukleotida dan glukan.
Imunoterapi kanker berupaya merangsang sistem imun untuk menghancurkan tumor. Berbagai strategi sedang digunakan atau sedang menjalani penelitian dan pengujian. Studi terkontrol secara acak pada kanker yang berbeda menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kelangsungan hidup dan periode bebas penyakit telah dilaporkan dan kemanjurannya meningkat sebesar 20-30% ketika imunoterapi berbasis sel dikombinasikan dengan metode pengobatan konvensional. Ekstraksi limfosit G-CSF dari darah dan dibiakkan in vitro melawan antigen tumor sebelum menginjeksi kembali sel dengan sitokin stimulasi yang tepat, menunjukkan sel dapat menghancurkan sel-sel tumor yang mengekspresikan antigen. Imunoterapi topikal menggunakan krim peningkat kekebalan (imiquimod) yang menghasilkan interferon, menyebabkan sel T pembunuh penerima menghancurkan kutil,keratosis actinic, kanker sel basal, neoplasia intraepitel vagina, kanker sel skuamosa, limfoma kulit, dan melanoma ganas yang dangkal.
Imunoterapi injeksi ("intralesional" atau "intratumoral") menggunakan cacar, candida, vaksin HPV atau injeksi antigen trichophytin untuk mengobati kutil (tumor yang diinduksi HPV).
Transfer sel adoptif telah diuji pada paru-paru dan kanker lainnya, dengan keberhasilan terbesar dicapai pada melanoma.
Priming pompa berbasis sel dendritik Sunting
Sel dendritik dapat distimulasi untuk mengaktifkan respon sitotoksik terhadap antigen. Sel dendritik diambil dari orang yang membutuhkan imunoterapi. Sel-sel ini kemudian dimuati dengan antigen atau tumor lisat atau ditransfeksi dengan vektor virus, menyebabkan mereka menyajikan antigen. Setelah ditransfusikan kemabli ke orang tersebut, sel-sel yang teraktivasi ini menyajikan antigen ke limfosit efektor (sel T pembantu CD4+, sel T pembunuh CD8+, dan sel B). Hal ini memulai respons sitotoksik terhadap sel-sel tumor yang mengekspresikan antigen (yang dengannya respons adaptif kini telah diprioritaskan). Vaksin kanker Sipuleucel-T merupakan salah satu contoh dari pendekatan ini.
Transfer adoptif sel T Sunting
Transfer sel yang diadopsi secara in vitro menumbuhkan sel T yang diekstraksi secara autologus untuk transfusi selanjutnya.
Atau, sel T yang direkayasa secara genetika dibuat dengan memanen sel T dan kemudian menginfeksi sel T dengan retrovirus yang berisi salinan gen reseptor sel T (TCR) yang khusus dikenali untuk mengenali antigen tumor. Virus mengintegrasikan reseptor ke dalam genom sel T. Sel-sel dibiakkan secara tidak spesifik dan/atau distimulasi. Sel-sel tersebut kemudian diinfuskan kembali dan menghasilkan respon imun terhadap sel-sel tumor. Teknik ini telah diuji pada melanoma metastasis kambuhan dan kanker kulit.
Comments
Post a Comment